HIDUP DALAM KESABARAN
KEJADIAN 37 : 2
Ditulis Oleh : Erna Widarto
Nelson Rolihlahla Mandela (1918-2013) adalah seorang tokoh antiapartheid Afrika Selatan. Apartheid itu sendiri merupakan sistem pemerintahan yang membedakan ras kulit putih dari ras kulit hitam. Karena penolakan terhadap sistem itu maka Mandela dipenjarakan selama 27 tahun melalui putusan pengadilan yang tidak adil.
Apakah dia melakukan perlawanan? Sama sekali tidak! Dengan penuh kesabaran ia jalani masa hukuman yang sebenarnya sudah tidak masuk di akal itu. Ketika bebas, bukannya jera melawan sistem Apartheid malah Mandela semakin gigih mengadakan perlawanan tanpa kekerasan. Hasilnya? Ia menjadi Presiden Afrika Selatan periode 1994-1999. Di masa kepresidenannya ia tidak membalas dendam terhadap rezim Apartheid, sebaliknya ia memberi pengampunan.
Di dalam Alkitab pun ada banyak tokoh yang bisa dijadikan contoh tentang kesabaran. Salah satunya Yusuf. Kejadian 37:2 mencatat, "Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya"
Kedekatan Yusuf dengan ayahnya (karena kebaikan Yusuf), inilah yang membuat saudara-saudaranya iri hati bahkan marah. Ia pun dijual mereka. Yusuf dijual saudara-saudaranya dalam usia 17 tahun (Kej.37:2). Sejak itu pergumulan tidak jauh dari hidupnya. Ia dijual di Mesir (Kej.37:36), difitnah istri Potifar sehingga dipenjarakan (Kej.39:20).
Adakah Yusuf melakukan pembelaan diri? Tidak. Dengan sabar ia jalani pemenjaraannya, bahkan selama di penjara Yusuf melakukan hal-hal yang baik, antara lain menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti (Kej.40:1-23). Lalu iapun menafsirkan mimpi Firaun (Kej.41:1-36) dan kepadanya diberi kuasa penuh atas Mesir (Kej.41:41). Ketika itu ia berusia 30 tahun (Kej.41:46). Dengan demikian 13 tahun lamanya Yusuf hidup dalam kesabaran, sejak dijual saudara-saudaranya sampai menjadi penguasa Mesir. Kesabaran yang berbuah manis.
Selanjutnya tercatat dalam Alkitab betapa Yusuf tidak marah apalagi mendendam terhadap saudara-saudaranya. Sebaliknya mereka termasuk ayahnya pindah ke Mesir (Kej.46:5-7).
Saat ini sulit menemukan orang yang bersedia hidup dalam kesabaran. Dan hampir mustahil menjumpai pribadi yang mempunyai kesabaran seperti Mandela apalagi Yusuf. Bila mereka ada di posisi seperti itu, pasti akan dicari Pengacara kondang untuk membela sebab mereka tidak bersalah. Tidak mungkin sikap Mandela terutama Yusuf ditiru. Dalam bidang lain juga di saat ini, sebagai contoh, ketika seseorang berdagang/berwiraswasta maunya cepat sukses, dan ditempuhlah jalan tidak benar. Tatkala menjadi pegawai keinginannya lekas naik posisi, maka "dijilatlah" atasan. Waktu memegang atau menduduki jabatan politik tetapi pendidikan kurang tinggi, dicarilah cara instan agar segera beroleh gelar akademik. Dengan kata lain kesabaran bukanlah pilihan. Pikiran mereka, kalau bisa segera menggapai keinginan/tujuan, mengapa harus bersabar?
Dalam pelayanan juga tidak banyak Hamba Tuhan yang sabar menghadapi jemaat. Demikian pula sebaliknya, jemaat tidak sabar melihat sifat Hamba Tuhan. Akhirnya terjadilah perselisihan yang melahirkan permusuhan dan akibatnya perpecahan.
Belajar dari kesabaran Mandela dan terutama Yusuf, sebagai orang percaya, marilah kita melangkah bersama dengan keyakinan bahwa kesabaran menghadapi masalah, pergumulan dan rintangan dalam hidup beriman akan beroleh pertolongan Allah, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang seperti itu.