“JANGAN MENGHAKIMI”
Matius 12 : 36 - 37
Ditulis oleh : Pdt. Yeremias Amos Lombok
Pada suatu kali seorang suami mengeluh kepada dokter pribadinya, "Istri saya sudah tuli, saya harus bicara berkali-kali padanya, barulah ia mengerti". Sang dokter lantas memberi usul, "Bicaralah dengannya dari jarak sepuluh meter. Jika tak ada respons, coba dari jarak lima meter, lalu dari jarak satu meter. Dari situ kita akan tahu tingkat ketuliannya."
Si suami mencobanya. Dari jarak sepuluh meter, ia bertanya pada istrinya, "Kamu masak apa malam ini?" Tak terdengar jawaban. Ia mencoba dari jarak lima meter, bahkan satu meter, tetap saja tak ada respons.
Akhirnya ia bicara di dekat telinga istrinya, "Masak apa kamu malam ini?" Si istri menjawab, "Sudah empat kali aku bilang: sayur asam!" Rupanya, sang suamilah yang tuli.
Saat mengkritik orang lain, kita kerap kali tidak sadar bahwa kita pun memiliki kelemahan yang sama, bahkan mungkin lebih parah. Ada kalanya apa yang tidak kita sukai dari orang lain adalah sifat yang tidak kita sukai dari diri kita sendiri. Belum bisa mengatasi kebiasaan buruk itu, kemudian kita jadi jengkel saat melihat sifat buruk itu muncul dalam diri orang lain, sehingga kita memintanya untuk berubah.
Tuhan Yesus tidak melarang kita menilai orang lain secara kritis. Namun, janganlah membesar-besarkan kesalahan orang lain dengan mengabaikan kesalahan diri sendiri. Jika kita memakai standar tinggi dalam menilai orang lain, pastikan kita sendiri sudah memenuhi standar yang kita buat. Yang terbaik adalah introspeksi diri terlebih dulu sebelum memberi kritik kepada orang lain.
Matius 12 : 36 - 37
“Aku berkata kepadamu: Setiap kata gegabah yang diucapkan orang akan dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.
Sebab, menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
2 Korintus 5 : 10
“Sebab, kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus,
supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”
Ya, dalam ajaran Kristen, penghakiman adalah hak mutlak Allah, seperti yang dinyatakan dalam Alkitab, misalnya dalam Roma 12 : 19b, yang menegaskan bahwa "Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan," firmanTuhan dan Ibrani 10 : 30, "Tuhan akan menghakimi umat-Nya". Hal ini juga didukung oleh Matius 12 : 36-37 yang menyatakan bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perkataannya pada hari penghakiman.
Itulah gambaran kehidupan manusia saat ini, sering sekali merasa bahwa kita memiliki hak untuk menjadi hakim atas hidup orang lain. Merasa bahwa diri kita jauh lebih sempurna dari pada orang lain, sehingga sangat mudah untuk menghakimi orang lain atas kesalahan yang dilakukannya. Yohanes mengatakan: Sebab, Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia (Yohanes 3 : 17). Yesus adalah Juruselamat yang datang bukan untuk menghakimi melainkan menyelamatkan. Bukan untuk membinasakan melainkan membawa kehidupan bagi kita. Lalu apakah manusia lebih hebat daripada Yesus Kristus?
Allah telah menyatakan kasih-Nya kepada umat manusia melalui Yesus Kristus, sehingga manusia itu menerima keselamatan bukan lagi penghakiman. Itulah mengapa setiap orang percaya diingatkan, jangan pernah menghakimi orang lain atau merendahkan orang lain.
Matius 7 : 3 berkata: Mengapa engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Artinya, bercermin terlebih dahulu baru lihat kehidupan orang lain. Perbaiki diri kita terlebih dahulu baru bisa mengingatkan orang lain untuk memperbaiki diri. Jika kita menunjuk orang lain dengan satu jari telunjuk, maka tanpa kita sadari keempat jari kita menunjuk kepada diri kita sendiri.
Oleh karena itu jagalah hati dan pikiran kita dengan hikmat dan pengertian dari Roh Kudus. Marilah kita saling mengampuni, menciptakan hidup untuk saling peduli dan membangun persekutuan yang penuh kasih mesra. Kiranya Tuhan Yesus memberkati dan menguatkan iman percaya kita semua.