Kemurahan yang Mengubah Hidup
Ditulis Oleh: Penatua Mathilde Poetiray
EFESUS 2 : 4-5
“Tetapi, Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh pelanggaran-pelanggaran kita – oleh anugerah kamu diselamatkan - "
Kemurahan adalah salah satu sifat Allah yang paling nyata dinyatakan kepada manusia. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah tidak meninggalkan kita. Sebaliknya karena kasih-Nya yang besar, Ia mengaruniakan keselamatan melalui Yesus Kristus. Inilah bukti bahwa kemurahan Allah bukan hanya sekedar perasaan belas kasihan, tetapi tindakan kasih yang mengubah hidup manusia.
Kemurahan Allah menyelamatkan
Efesus 2:4-5 menjelaskan bahwa keselamatan adalah anugrah Allah, bukan hasil usaha atau perbuatan kita. Kita yang dahulu mati karena dosa kini dihidupkan bersama Kristus. Keselamatan yang kita terima adalah bukti nyata bahwa Allah kaya akan rahmat. Keselamatan adalah anugrah yang patut disyukuri, bukan sesuatu yang dapat kita banggakan.
Kemurahan Allah memulihkan
Allah tidak hanya menyelamatkan kita, tetapi juga memulhkan kehidupan kita. Rasul Paulus mengingatkan kita dalam Roma 2:4b - “Tidak tahukah engkau bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Kemurahan Allah memberi kesempatan kepada kita untuk meninggalkan hidup lama yang penuh dosa, membentuk karakter kita, dan mengarahkan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada dosa yang terlalu besar atau hidup terlalu rusak, yang tidak dapat dipulihkan oleh kemurahan Allah, asalkan kita datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat.
Kemurahan Allah harus diteruskan kepada sesama
Yesus berkata dalam Lukas 6:36 “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.” Kemurahan yang kita terima tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Allah memanggil kita untuk menjadi saluran kasih-Nya melalui pengampunan, perhatian, dan kepedulian kepada orang lain. Dunia dapat melihat kasih Kristus melalui sikap murah hati kita.
Aplikasi dalam kehidupan sehari hari :
Kemurahan Allah hendaknya terlihat melalui sikap kita. Di rumah, kita belajar mengampuni dan menghargai setiap anggota keluarga. Di tempat kerja atau sekolah, kita menolong mereka yang membutuhkan tanpa mengharapkan balasan. Dalam persekutuan gereja, kemurahan diwujudkan dengan saling menerima tanpa membeda-bedakan latar belakang, tidak mudah menghakimi atau menyimpan kepahitan, tetapi saling mengampuni, mendoakan, menguatkan, dan melayani dengan rendah hati.
Ketika ada saudara seiman yang sedang bergumul, kita hadir memberikan dukungan, bukan kritik. Ketika ada perbedaan pendapat, kita memilih membangun persatuan daripada mempertajam perpecahan. Dengan demikian gereja menjadi tempat dimana kasih dan kemurahan Allah nyata dirasakan setiap orang.
Mari kita bertanya pada diri sendiri dan menjawabnya secara jujur dalam kehidupan kita sehari-hari.
Adakah orang yang masih saya tolak, hakimi, atau simpan dendam kepadanya?
Bagaimana saya bisa membagikan kemurahan yang saya terima kepada orang itu hari ini?
Dalam pelayanan, di rumah, atau lingkungan sekitar, apakah orang lain melihat saya sebagai orang yang murah hati dan penuh pengampunan seperti Bapa di Surga?
Apakah gereja atau lingkungan tempat saya berada benar-benar menjadi tempat yang aman bagi orang yang sedang jatuh dan membutuhkan kemurahan, atau justru tempat yang penuh penghakiman?
Biarlah renungan dan pertanyaan ini membantu kita merenung lebih dalam dan berubah menjadi lebih serupa dengan Allah.