Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati,
terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan mendekat.
(Ibrani 10:25)
Ditulis Oleh : Pdt. Yeremias Amos Lombok
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ada satu hal yang patut kita renungkan: apakah iman dan kehidupan persekutuan kita turut bertumbuh, atau justru menjauh dari Tuhan dan jemaat?
Sebagian orang berpikir bahwa beribadah di gereja tidak lagi diperlukan karena dapat diikuti melalui siaran langsung di YouTube dari berbagai gereja. Ada pula yang berpendapat bahwa membaca Alkitab dan berdoa seorang diri sudah cukup untuk membuat kerohanian mereka dewasa.
Namun, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial—yang mencerminkan imago Dei, yaitu gambar Allah yang relasional. Dalam rencana-Nya, pertumbuhan rohani tidak pernah dimaksudkan untuk terjadi dalam isolasi total atau keterasingan.
Dalam teologi Kristen, gereja bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan "Tubuh Kristus" yang dipanggil Allah untuk menjadi komunitas perjanjian, tempat umat-Nya dipelihara dan didewasakan (Efesus 4:11–16).
Karena itu, pertumbuhan iman tidak hanya terjadi melalui hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga melalui kehidupan bersama dengan orang-orang percaya.
Allah memakai gereja sebagai “sarana anugerah” (Means of Grace), yaitu melalui pemberitaan firman, doa, persekutuan, pelayanan, dan nasihat satu sama lain, untuk membentuk umat agar semakin serupa dengan Kristus.
Penulis kitab Ibrani mengingatkan agar orang percaya tidak meninggalkan pertemuan ibadah. Perintah ini menegaskan bahwa kehidupan berkomunitas merupakan bagian dari proses “pengudusan“, di mana Roh Kudus bekerja melalui relasi antar anggota tubuh Kristus.
Dalam komunitas yang sehat, iman diteguhkan, kasih dipraktikkan, karakter dibentuk dan setiap orang didorong untuk tetap setia di tengah tantangan dunia.
Ada perbedaan besar antara sekadar "hadir" dalam gereja atau kelompok ibadah, dengan benar-benar "bertumbuh" melalui persekutuan.
Kehadiran bisa saja pasif, sedangkan pertumbuhan menuntut keterlibatan aktif dan seringkali melibatkan gesekan.
Persekutuan Adalah Cermin, Bukan Panggung
Tanpa disadari, terkadang kita datang ke persekutuan dengan topeng. Kita ingin terlihat saleh, menarik, kuat dan seolah-olah tidak memiliki masalah. Padahal, persekutuan yang sehat bukanlah panggung untuk memamerkan kesalehan atau kehebatan, melainkan ruang yang aman untuk ketulusan dan kejujuran. Ketika kita membuka hati mengenai pergumulan, keraguan, atau dosa kita kepada saudara seiman yang dapat dipercaya, sesuatu yang ajaib terjadi : Beban menjadi ringan karena dibagi, dan kebenaran menjadi nyata karena dikoreksi dengan kasih. Seperti kata Amsal 27:17, proses "penajaman" itu kadang terasa kasar. Teguran dari seorang sahabat mungkin menyakitkan bagi ego kita, tetapi itulah cara Tuhan mengikis ketajaman karakter kita agar lebih serupa dengan Kristus. Tanpa gesekan dalam persekutuan, kita mungkin tetap nyaman, tetapi kita tidak akan pernah tajam.
Bertumbuh Lewat Saling Melayani, Bukan Hanya Dilayani
Pertumbuhan dalam persekutuan terjadi ketika kita bergeser dari mindset "Apa yang bisa saya dapatkan dari kelompok ini" menjadi "Apa yang bisa saya berikan?". Dalam tubuh Kristus, setiap anggota memiliki fungsi. Ketika kita melayani orang lain—mendengarkan keluh kesah mereka, mendoakan kebutuhan mereka, atau membantu mereka dalam kesulitan praktis—kita sedang melatih buah Roh : kasih, kesabaran, dan kerendahan hati.
Kita pun belajar bahwa iman bukan hanya tentang pengetahuan teologis, tetapi tentang tindakan kasih yang nyata. Semakin kita memberi diri dalam persekutuan, semakin dalam akar iman kita tertanam.
Ketekunan di Tengah Ketidaksempurnaan
Mudah untuk merasa kecewa dengan persekutuan karena anggotanya tidak sepemikiran atau selevel dengannya. Ada gosip, ada perbedaan pendapat, ada ego yang bertabrakan. Namun, justru di sinilah ujian kedewasaan iman kita. Jika kita hanya mau bersekutu dengan orang-orang yang "nyaman" dan "sepemikiran", kita tidak sedang bertumbuh, kita sedang mencari validasi.
Bertumbuh dalam persekutuan berarti memilih untuk tetap tinggal, mengampuni, dan membangun hubungan meskipun situasinya tidak ideal. Itu adalah cerminan bagaimana Kristus mengasihi Gereja-Nya—tidak karena Gereja itu sempurna, tetapi karena Dia berkomitmen untuk menyucikannya.
Refleksi Diri
Apakah saya hadir dalam persekutuan hanya sebagai penonton, atau sebagai peserta aktif yang siap diberi masukan?
Adakah seseorang dalam lingkup persekutuan saya yang perlu didekati minggu ini untuk didoakan atau dilayani, bukan untuk dihakimi?
Bagian karakter mana yang sedang "diasah" Tuhan melalui interaksi dengan saudara-saudara seiman saat ini?
Selamat merefleksikan.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.