Ibadah Sejati, Mempersembahkan Tubuh
Roma 12 : 1 - 8
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”
(Roma 12 : 1)
Ditulis Oleh : Vikaris Cahyono Budi Wibowo
Ibadah yang sejati tidak berbicara dari tingginya jam terbang kita dalam melayani pekerjaan Tuhan, kerajinan kita menghadiri peribadatan di gereja, atau besarnya jumlah persembahan yang kita bawa ke rumah Tuhan. Ibadah yang sejati berbicara tentang bagaimana kita mempersembahkan seluruh hidup sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Tuhan (ayat nas).
Mempersembahkan tubuh kepada Tuhan berarti mengkhususkan diri untuk melakukan perkara-perkara rohani yang menyenangkan hati Tuhan, bukan untuk perkara-perkara duniawi. Rasul Paulus menegaskan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus, tempat Roh Kudus tinggal (baca 1 Korintus 6:19-20). Karena itu, kita harus mempersembahkan tubuh kita untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk kesenangan daging kita, sebab kita telah dibeli dengan harga yang dibayar lunas .
Alkitab menulis "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu, bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19).
Karena telah ditebus oleh darah Kristus, kita harus menyerahkan Hasrat dan keinginan tubuh kita kepada pimpinan Roh Kudus. Artinya, kita tidak lagi menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa untuk dijadikan senjata kelaliman dan kejahatan, tetapi menyerahkannya kepada Tuhan untuk dijadikan senjata kebenaran (Roma 6:13). Menjadi senjata kebenaran berarti bersedia menjadi bejana dan alat di tangan Tuhan demi kemuliaan-Nya. Karena itu, biarlah hidup kita dipenuhi Roh Kudus, dan kemudian dengan kerelaan serta kerendahan hati, kita melayani Tuhan di tengah keluarga, gereja, bahkan bangsa dan negara.
Kita telah ditebus oleh Tuhan Yesus dari dosa yang tidak mampu kita atasi sendiri, lalu, layakkah kita menolak menjadi alat-Nya dan tidak mau melayani? Atau, kita mau melayani, tetapi hanya untuk merusak, mengkritik, menentang, atau merasa diri paling baik dibandingkan orang lain? Sadarilah bahwa dalam pelayanan, kita hanyalah alat Tuhan, bukan tuan atas alat itu yang boleh bertindak sesuka hati.
Hingga saat ini, masih banyak orang Kristen — baik jemaat awam, orang yang melayani dalam pekerjaan Tuhan, maupun hamba Tuhan — yang tetap hidup untuk memuaskan keinginan dan hawa nafsunya. Seperti, korupsi waktu dan uang, jatuh dalam dosa perzinaan, terlibat dalam pergaulan bebas, minum yang memabukkan, menggunakan narkoba, dan sebagainya. Hal ini sangat memprihatinkan!
Orang percaya dipanggil Tuhan “...bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1 Tesalonika 4:7).
Ibarat sebuah perabot, agar tetap dapat digunakan, kita perlu mencuci, membersihkan, bahkan memolesnya. Begitu pula hidup kita. Sebagai alat di tangan Tuhan, kita harus terus memperbarui diri agar dapat dipakai oleh Sang Empunya Kehidupan dan Juruselamat kita. Jangan sampai kita didapati sudah berkarat, rusak, usang, berlubang dan menjadi tidak layak dipakai Tuhan. Sungguh malang jika demikian, karena kita akan dibuang dan dibakar.
Sebelum mengakhiri renungan ini, ada sebuah kisah: Di sebuah kantor periklanan yang terkenal, Daniel menatap layar komputernya dengan ragu. Rekan kerjanya baru saja berbisik, menyuruhnya memanipulasi data anggaran proyek agar mereka bisa mengantongi bonus tambahan. Hatinya sempat goyah membayangkan barang-barang impian yang bisa dibelinya dengan uang itu.
Namun detik berikutnya, ia menarik napas dalam-dalam. Daniel ingat, bahwa hidup dan tubuhnya telah ditebus dengan harga yang dibayar lunas. Dengan senyum tenang, Daniel memilih untuk menyelesaikan laporan itu sesuai kebenaran.
Setiap pagi, sebelum melangkah keluar, Daniel selalu meminta pimpinan Roh Kudus, agar setiap kata-kata, perbuatan dan pikirannya dijadikan alat kebenaran Tuhan.
Kehadiran Roh Kudus terpancar nyata dalam setiap tindakannya di keluarga, pada istri, anak-anak. Di gereja, dan juga masyarakat.
Mari rawat diri kita sebagai alat dan bejana bagi Tuhan melalui doa, perenungan firman, pujian, dan ibadah yang dilandasi kerendahan hati, kesetiaan, serta kasih.
Tuhan memampukan kita.