DAUNNYA LEBAT, TAPI TIDAK BERBUAH

Markus 11 : 12 - 14

Ditulis Oleh: Vik. Cahyono Budi Wibowo

AYAT HAFALAN

Markus 11:13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.

RENUNGAN

Saat Tuhan Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem, Ia merasa lapar dan melihat dari jauh ada pohon ara yang lebat daunnya. Pohon itu tampak hidup dan menarik. Tuhan Yesus mendekatinya untuk mencari buahnya. Tapi saat Ia sampai di pohon itu, Ia tidak menemukan apa-apa selain dedaunannya saja.

Markus menulis bahwa pada saat itu memang bukan musim buah ara.

Tetapi akhirnya Tuhan Yesus mengutuk pohon tersebut. Kita mungkin berpikir, mengapa Tuhan Yesus mengutuk pohon ara tersebut, sedangkan memang belum musimnya untuk berbuah. Seolah ini memperlihatkan keegoisan Tuhan Yesus atau seolah Tuhan berbuat suka-suka.

ilustrasi-eff-bersaksi-220826

Sebenarnya, kejadian itu tidak lazim terjadi pada pohon ara; umumnya pohon ara yang sudah berdaun juga memiliki bakal buah yang bisa dimakan. Masalahnya, pohon itu memberi kesan seolah-olah memiliki buah karena daunnya yang lebat. Jadi, pohon yang dari jauh terlihat menjanjikan itu ternyata “nol besar”.

Gambaran pohon ara yang lebat daunnya tapi tak berbuah ini menjadi teguran keras bagi kita yang pintar membuat kesan palsu. Beberapa orang mungkin aktif melayani, rajin mengunggah ayat atau konten rohani, bahkan pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi kehidupan pribadinya jauh dari pertobatan dan ketaatan kepada Tuhan. Yang Tuhan Yesus cari ialah buah, dan Ia mengutuk pohon ara karena memberi kesan palsu.

Jika daun berbicara tentang penampilan luar yang dapat mengesankan manusia, buah berbicara tentang kehidupan yang benar-benar menghasilkan perbuatan baik melalui proses dan buah kebaikannya kemudian dapat dinikmati orang lain. Buah tidak bisa dipalsukan. Cepat atau lambat, karakter asli, kasih, kesetiaan, kerendahan hati, dan ketaatan akan terlihat nyata. Pohon mangga tidak menghasilkan buah jeruk, pohon rambutan tidak akan berbuah cabe atau tomat.

Itu sebabnya Tuhan Yesus sangat keras terhadap kemunafikan rohani. Ingat, bahwa tujuan kita bukan untuk memberi kesan terlihat rohani, tetapi sungguh-sungguh menjadi pribadi yang menghasilkan buah-buah kebaikan yang dapat dinikmati dan dirasakan oleh orang-orang sekitar kita. Jika Tuhan Yesus melihat kehidupan kita hari ini, semoga hidup kita bukan hanya dipenuhi “dedaunan”, tetapi terutama dipenuhi “buah” yaitu buah-buah kebaikan: buah kasih yang tulus dan rela berkorban, buah ketaatan saat tidak ada yang melihat, buah kesabaran dalam tekanan, buah penguasaan diri di tengah godaan, buah kerendahan hati saat diberkati, buah kesetiaan dalam perkara kecil, dan buah-buah lainnya yang memancarkan karakter Kristus sehingga membawa orang lain semakin dekat dengan Tuhan dan memuliakan-Nya.

Apa yang harus kita lakukan?

Jangan ganti hubungan dengan Tuhan dengan aktivitas rohani. Buah rohani pasti lahir dari persekutuan dengan Kristus, bukan sekadar kesibukan rohani. Fokus pada transformasi hati kita, bukan hanya kesan luar. Berdoalah agar Roh Kudus menolong kita tinggal dalam Kristus setiap hari dan kita menghasilkan kebaikan bagi Tuhan dan sesama.

REFLEKSI DIRI

1. Jika Yesus melihat kehidupan kita hari ini, apakah Ia menemukan “buah” atau hanya “dedaunan lebat” saja?

2. Bagaimana seharusnya contoh dari kehidupan yang berbuah?

RENUNGKAN

Jika Tuhan Yesus melihat kehidupan kita hari ini, semoga hidup kita bukan hanya dipenuhi “dedaunan”, tetapi juga dipenuhi “buah-buah lebat”.

Buah-buah kebaikan yang lebat dan memberkati banyak insan dimana kita berada.

Previous
Previous

Kesetiaan yang Berkenan di Hati Tuhan

Next
Next

KEBAIKAN YANG MELAMPAUI KETERBATASAN