KEBAIKAN YANG MELAMPAUI KETERBATASAN
Efesus 2 : 10
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup didalamNya.”
Ditulis Oleh : Violen Marpaung Pirsouw
Kisah mengharukan datang dari seorang pengajar bahasa isyarat yang merupakan seorang tuli di GPIB Effatha, Jakarta, beliau biasa dipanggil bu guru. Siang itu, di tengah keheningan ruang PHMJ gereja,
saya dan bu guru saling berkomunikasi dengan tulus. Saya mengerti setiap gerakan tangan dan bibir yang beliau sampaikan, begitu juga dengan bu guru, yang disaat itu mencoba menjelaskan tentang Kebaikan Tuhan yang menggetarkan hatinya. Cerita berawal dari rasa haru dan bahagia yang melimpah dihati bu guru, ketika didapatinya nilai ujian dari sepuluh orang muridnya rata-rata bagus. Namun, dibalik rasa bangga itu, sebuah pertanyaan sulit mengusik pikirannya, “Siapakah yang terpaksa tidak diluluskan, jika semuanya memberikan yang terbaik?”. Malam sebelumnya, beliau tidak bisa memejamkan mata, terus bergumul dalam doa.
Tepat pada jam sebelas malam, dalam posisi berdoa, tiba-tiba kedua telinganya terasa sangat panas dan ditengah keheningan yang biasa ia jalani, ia menyakini serta mendengar suara Tuhan Yesus dengan jelas dan lembut berkata : “Luluskanlah mereka semua”. Pengalaman iman ini menjadi bukti nyata, bagaimana ketulusan dalam mengajar dan belajar bahasa isyarat telah menggerakkan hati Tuhan untuk meluapkan kebaikan-Nya.
Pesan kebaikan yang melampaui keterbatasan fisik diatas, selaras dengan kebenaran firman Tuhan yang terungkap secara utuh dalam Efesus 2 : 1-10. Firman ini mengingatkan kita bahwa kebaikan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tujuan utama mengapa kita diciptakan. Tuhan telah merancang setiap kita dengan segala kelebihan maupun keterbatasan untuk menjadi alatNya, menyebarkan Kasih.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Efesus tentang kondisi masa lalu mereka yang mati secara rohani akibat pelanggaran dan dosa, hidup dalam perhambaan dunia, serta tidak memiliki pengharapan. Namun, Allah yang kaya dengan rahmat dan oleh kasih-Nya yang besar telah menghidupkan kembali orang percaya bersama-sama dengan Kristus melalui kasih karunia, bukan karena usaha atau kebaikan manusia itu sendiri. Puncak dari karya keselamatan ini ditegaskan dalam ayat 10.
Dalam keseharian, kebaikan sering kali hadir lewat hal-hal kecil yang jarang kita sadari, seperti menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan orang lain, membalas pesan WhatsApp dengan bahasa yang baik, memberi apresiasi tulus pada orang yang pekerjaannya sering dianggap sepele, hingga mengambil waktu sejenak untuk mendoakan sesama, bukan sekadar basa-basi "nanti saya doakan", melainkan benar-benar membawanya dalam doa di hadapan Tuhan. Kebaikan juga hadir ketika kita rela memberi ruang bagi
orang lain untuk memperbaiki diri. Berbuat baik tidak selalu tentang materi, melainkan tentang menghadirkan rasa aman, ketulusan, dan rasa peduli bagi siapa saja yang berpapasan dengan kita hari ini.
Kisah kesaksian dan firman Tuhan hari ini memberi kita cermin kecil untuk melihat kembali kedalam diri sendiri. Apakah kita sudah menggunakan setiap waktu, talenta, dan kesempatan yang Tuhan berikan.
Saat kita berhadapan dengan keterbatasan atau rasa lelah dalam hidup, maukah kita datang mendekat, berlutut dan memberikan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan, yang tidak pernah berhenti mendorong kita menyebarkan kebaikan? Karena ketika tubuh kita bergerak melayani sesama dengan tulus, hati Tuhan sendiri yang tersenyum atas hidup kita.