Lemah Lembut, Kuat dalam Kendali Tuhan

Ditulis Oleh : Pnt. Conny Saptenno Mandang

MATIUS 11 : 29

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”

Renungan ini dibuka dengan mengutip satu ayat dari Amsal 15: 1, yaitu “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan kemarahan”.

Ciri-ciri seseorang yang lemah lembut dalam perkataan adalah berbicara dengan nada rendah, menggunakan kata-kata yang baik, menyampaikan kebenaran dengan santun. Dalam perbuatan, dengan sikap yang murah senyum, pemaaf, sikap santun, menghargai orang lain, tidak terkecuali yang tua maupun yang muda sekalipun. Praotes dalam Bahasa Yunani kuno berarti kelemah lembutan, kerendahan hati atau kesopanan.

Jika kita ditanyakan, siapakah teladan kelemahlembutan kita? Pasti jawabannya hanya satu, yaitu Yesus itu sendiri, mengapa bisa dikatakan seperti itu? Karena kekuatanNya selalu berada dibawah kendali Bapa, itulah kelemahlembutan sejati. Matius 11 ayat 29, Yesus mengajak kita untuk belajar padaNya. Secara khusus untuk pemuda-pemudi calon pemimpin masa depan juga bagi pelayan-pelayanNya, bagaimana kita dapat bersikap lemah lembut. Yesus memastikan bahwa dari sikap lemah lembut yang kita miliki akan menghasilkan rasa hormat, dan tidak ada seorangpun dapat memimpin tanpa terlebih dahulu dihormati.

Musa adalah salah satu contoh tokoh Alkitab yang secara khusus disebut sangat lemah lembut (Bilangan 12:3), terlebih ketika dia menghadapi Firaun. Firaun harus merendahkan diri setelah kena kutukan, karena berkat yang seharusnya dia terima akan berubah menjadi kutukan. Kelemah lembutan itu tidak datang secara alami. Musa pun mempunyai masalah besar dengan kemarahan. Lalu, bagaimana seseorang yang bergumul dengan kemarahan bisa dikatakan lemah lembut? Itu karena Musa memiliki hati yang mau diajar ketika ditegur atau dikoreksi. Melalui ajaran yang Allah berikan dalam setiap peristiwa, membuat Musa bertumbuh dan tidak membiarkan kesombongan menguasainya.

Bagaimanakah dengan kita, sebagai pemuda maupun pelayan, maukah kita menjadi seperti Musa? Kitapun mungkin juga memiliki pergumulan seperti tidak sabar, mudah tersinggung, terlalu pasif, malas dan sulit menerima masukan. Apa yang harus kita lakukan? Adakah kita memiliki Roh yang mau diajar?

Mintalah pada Tuhan roh yang lemah lembut, mau diajar, mau diubah Tuhan, mau melewati setiap ujian yang Tuhan izinkan. Tuhan akan membersihkan hati yang kotor. Bersediakah kita mau berada dalam kendali Bapa?

Hanya melalui kelemahlembutan yang dapat meredakan konflik, melalui perbuatan nyata dengan menunjukkan ‘kasih’ kepada sesama kita. ‘Kasih’ Yesus menawarkan ketenangan bagi jiwa yang letih dan lelah.

Mari kita renungkan syair dalam lagu ini, kata-perkata.

Kasih pasti lemah lembut;

Kasih pasti memaafkan,

Kasih pasti murah hati.

Kasih-Mu, kasih-Mu Tuhan.

Kasih pasti lemah lembut;

Kasih pasti memaafkan,

Kasih pasti murah hati.

Kasih-Mu, kasih-Mu Tuhan.

Ajarilah kami ini saling mengasihi.

Ajarilah kami ini saling mengampuni.

Ajarilah kami ini kasih-Mu, ya Tuhan,

Kasih-Mu Kudus tiada batasnya.

Tuhan memberkati kita semua. Amin!

Next
Next

BETAPA BERHARGANYA SEBUAH KESETIAAN