RASA LAPAR UNTUK BERTUMBUH

“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” (1 Petrus 2 : 2)

Ditulis Oleh : Pdt. Teddy Christian Sigarlaki Masinambouw

Sahabat-sahabat GPIB Effatha yang dikasihi Kristus,

Dalam edisi Effatha Bersaksi kali ini, kita akan merenungkan panggilan untuk bertumbuh dalam iman.

Saya mengawali dengan mengajak kita memperhatikan bayi yang baru lahir. Ketika lahir ke dunia, ia menangis histeris. Wajahnya memerah, dan suaranya memenuhi ruangan. Apa yang ia inginkan?

Hanya satu: air susu ibunya.

Bagi bayi, susu bukanlah pilihan menu atau suplemen tambahan; susu adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa susu, ia tidak akan memiliki tenaga untuk bertahan hidup, apalagi bertumbuh.

Kerinduan yang alami, murni, dan tidak biasa ditawar itulah yang digunakan Rasul Petrus untuk menggambarkan kerinduan kita akan Firman Tuhan sebagai air susu yang murni dan rohani.

Rasul Petrus menulis ini kepada jemaat yang sedang dalam tekanan di perantauan. Nasihatnya jelas: pertumbuhan iman yang sejati selalu dimulai dari rasa lapar yang mendalam akan Allah.

Air susu yang murni adalah Firman Tuhan yang tidak dipalsukan oleh motivasi duniawi, ego manusia, atau pengajaran yang hanya menyenangkan telinga.

Nasihat ini mengajak kita mengevaluasi diri. Sering kali, iman kita menjadi kerdil bukan karena Tuhan tidak berkuasa, melainkan karena kita memuaskan lapar jiwa dengan makanan yang salah. Kita lebih banyak mengonsumsi media sosial, opini publik, dan hiburan duniawi yang membuat kenyang semu, namun mematikan selera kita terhadap Alkitab. Akibatnya, saat badai hidup datang, iman kita mudah goyah karena tidak memiliki nutrisi yang kuat.

Bertumbuh dalam iman tidak terjadi otomatis hanya karena kita rajin ke gereja atau sudah puluhan tahun menjadi Kristen. Diperlukan disiplin rohani yang nyata dalam keseharian:

  • Miliki Jadwal Khusus Bersaat teduh

    Disiplinkan diri membaca Firman Tuhan setiap hari sebelum menyentuh ponsel atau memulai aktivitas. Anggap ini sebagai sarapan rohani yang wajib.

  • Taat dan Setia Melakukan Firman Tuhan

    Setelah membaca Alkitab, ambil satu komitmen sederhana untuk dilakukan hari itu. Jika Firman hari ini tentang pengampunan, belajarlah melepaskan pengampunan kepada rekan yang menjengkelkan.

  • Aktif dalam Persekutuan yang Sehat

    Sama seperti bayi yang butuh lingkungan kondusif untuk tumbuh, bergabunglah dengan persekutuan kecil di mana kita bisa saling mendoakan dan belajar Firman bersama.

Sahabat Effatha yang terkasih, pernahkah memperhatikan pohon bambu cina?

Ketika seorang petani menanam benihnya, ia harus menyiram dan memupuk setiap hari. Namun, selama tahun pertama, tidak ada tanda pertumbuhan di atas tanah. Hal yang sama terjadi pada tahun kedua, ketiga, hingga keempat.

Benih itu seolah mati. Jika petani tidak sabar, ia pasti menyerah.

Namun, keajaiban terjadi pada tahun kelima. Hanya dalam enam minggu, bambu itu melesat tumbuh hingga 25-30 meter.

Apakah bambu itu baru bertumbuh dalam enam minggu? Tidak.

Selama empat tahun pertama, pertumbuhan terjadi di dalam tanah secara tidak terlihat. Bambu itu sibuk membangun sistem akar yang sangat kuat dan dalam, agar ketika tumbuh tinggi menjulang, tidak roboh diterpa angin kencang.

Demikianlah pertumbuhan iman. Ia membutuhkan proses, waktu dan konsistensi.

Ketika kita membangun kerinduan yang murni akan Firman-Nya setiap hari, maka iman kita tidak akan berjalan di tempat. Kita akan bertumbuh menjadi pribadi yang berakar kuat di dalam Kristus dan siap menjadi berkat bagi sesama.

Pada akhirnya, pergumulan, kesulitan, badai dan topan kehidupan tidak akan mampu menggoyangkan kita, karena kita terus bertumbuh dalam iman dan keselamatan.

Selamat berjuang. Amin.

Next
Next

Tetap Setia, Jangan "Mundur Teratur"!