Tetap Setia, Jangan "Mundur Teratur"!

“Tetaplah teguh, jangan bergeser, dan tekunlah selalu dalam pekerjaan Tuhan, sebab kamu tahu bahwa jerih payahmu dalam Tuhan tidak sia-sia.”

1 Korintus 15 : 58

Ditulis Oleh : Pdt. Christy Rohrohmana Lekahena

Pernahkah merasa seperti ini?

Pagi hari mau berdoa, tapi mata masih merindukan bantal — rasanya seperti "pertempuran sengit" antara iman dan kasur empuk. Atau saat menghadapi masalah, rasanya pengen bilang: "Ya Tuhan, bolehkah aku 'izin pulang' dulu sebentar? Besok lanjut lagi ya?"

Kadang kita memang manusia yang lemah. Kalau kesetiaan itu diukur dengan uang atau materi, mungkin banyak dari kita yang sudah "bangkrut" duluan. Kalau kesetiaan itu seperti langganan paket data, mungkin sinyal kita sering putus-nyambung, kadang hilang total, atau bahkan "habis kuota" di tengah jalan. Tapi tahukah kamu? Kesetiaan kita bukan bergantung pada seberapa kuat kita, melainkan seberapa setia Tuhan yang memegang kita. Dan di sinilah kita butuh PENGUASAAN DIRI.

Seorang pembalap bisa sangat hebat di lintasan lurus. Tapi jika remnya blong, secepat apapun mobilnya, ia pasti celaka. Begitu juga kita. Kita bisa sangat semangat di awal pelayanan, tapi tanpa rem, semangat itu akan membawa kita keluar jalur dan mundur teratur. Tanpa rem itu, sedikit masalah saja kita sudah ingin "izin pulang" dari Tuhan. Rem itu bernama Penguasaan Diri.

Kabar baiknya, kasih karunia Tuhan itu seperti langganan seumur hidup tanpa batas kuota — sinyalnya selalu penuh meski badai! Karena Dia setia memegang kita, kita dimampukan untuk menguasai diri. Alkitab berkata: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32)

Apa itu penguasaan diri dalam kesetiaan?

  1. Penguasaan diri adalah yang membuat kita TETAP beribadah saat malas datang.

    Tanpa penguasaan diri, kita akan jadi murid yang bolos terus. Alasannya selalu ada: capek, hujan, hati lagi tidak enak.

    Penguasaan diri berkata: "Tubuhku mungkin lelah, tapi rohku memilih untuk tetap datang."

  2. Penguasaan diri adalah yang membuat kita TETAP melayani saat tidak dihargai.

    Kalau melayani hanya saat mood bagus dan dipuji, kita seperti lampu yang nyala-mati. Penguasaan diri mengajarkan kita menguasai perasaan kecewa itu, dan tetap melayani meja yang Tuhan percayakan.

  3. Penguasaan diri adalah yang membuat kita TETAP bersandar, bukan menyerah.

Kesetiaan sejati bukan berarti kita tak pernah tergelincir. Kadang kita jalan pelan, kadang tersandung, kadang "jalan mundur" sebentar karena takut. Penguasaan diri bukan berarti kita tidak pernah lelah, tapi kita menguasai diri untuk tidak menjadikan kelelahan sebagai alasan untuk meninggalkan Tuhan selamanya.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa lelah, rasanya berat, atau hampir mau menyerah... tenang saja. Tuhan tidak menghukummu karena pernah lelah. Dia cuma mau mengingatkan: "Anak-Ku, kalau kakimu sudah tak sanggup melangkah, jangan lari ya... cukup berhenti sebentar, sandarkan dirimu pada-Ku, lalu kita jalan pelan-pelan saja. Aku yang akan memikul bebanmu."

Tuhan itu seperti "langganan seumur hidup tanpa batas kuota", nggak pernah diputus, nggak perlu bayar bulanan, dan sinyalnya selalu penuh meski badai paling kencang sekalipun! Karena itu kita bisa tetap setia.

Yuk, hari ini kita janji dengan penguasaan diri:

  • Tetap setia beribadah — kuasai kemalasanmu

  • Tetap setia melayani — kuasai perasaanmu

  • Tetap setia bersandar — kuasai keputusasaanmu

"Kesetiaan membawa kita memulai perjalanan, Penguasaan dirilah yang membuat kita sampai ke garis akhir."

Next
Next

SATU GELAS AIR PER-HARI, cukupkah?