“TUHAN YESUS MATI DAN BANGKIT, UNTUK MASALAH DOSA”

Ditulis oleh : Vikaris Cahyono Budi Wibowo

Lagu “Kami Puji Dengan Riang”, dari Kidung Jemaat no.3, adalah lagu yang simfoninya diciptakan oleh Ludwig van Beethoven (1770-1827).

Ia adalah musisi terkenal di dunia tetapi sepanjang hidupnya menderita rupa-rupa penyakit. Yang paling menyedihkan adalah gangguan pendengarannya, padahal telinga adalah anggota tubuh utama Beethoven dalam menciptakan karyanya.

Pada usia 28 tahun, pendengarannya mulai berkurang. Kian lama kian parah. Ia memimpin konser tanpa bisa mendengarnya. Usia 44 tahun, ia menjadi benar-benar tuli. Kesehatan Beethoven terus menurun, komplikasi penyakit membuat ia terkapar lemah di ranjang ketika menerima sakramen terakhir dan akhirnya meninggal pada usia 57 tahun. Apakah ini berarti Tuhan tidak mengasihi dia sementara dia menciptakan musik gerejawi?

Sahabat Effatha, Yesaya 53 : 4 - 6 memperlihatkan kepada kita bahwa ayat-ayat ini berarti:

  1. Penghakiman atas dosa dan penghapusan dosa oleh Allah, adalah tema-tema yang ada di Kitab Yesaya

  2. Ayat-ayat ini bersifat puitis, maka satu ide penting diungkapkan dalam Yesaya 53 : 4 - 6 bahwa "kesedihan (penyakit)" dan "penderitaan (sakit)" mengandung arti yang sama dengan "pelanggaran" dan "kesalahan" bukan tentang sakit jasmani.

  3. Pada umumnya puisi kaya akan kiasan dan sering menggunakan metafora. Sehingga ayat-ayat ini harus dipahami sebagai kiasan yang mengacu pada keberdosaan atau dosa, dan tidak untuk dipahami secara harfiah (sakit jasmani).

Jadi ayat ini menyatakan bahwa Kristus menanggung kelemahan dan duka mendalam yang merupakan konsekuensi dari dosa, yaitu hukuman api neraka. Oleh karena itu kesembuhan yang dibawa-Nya bukan kesembuhan secara fisik, namun lebih mendalam lagi pada kesembuhan jiwa yang berdosa yang memerlukan keselamatan.

Sekalipun sakit kebanyakan dimengerti sebagai akibat dari dosa, tetapi akan menjadi remeh dan sepele, bila Tuhan Yesus berinkarnasi dan mati di Kayu Salib hanya untuk menyembuhkan orang sakit panas, batuk, flu, sakit gigi atau sakit fisik lainnya. Sementara, ada sakit serius yang dialami setiap orang dan tidak bisa diobati oleh dokter di dunia ini, yaitu sakit dosa.

Berkenaan dengan penyembuhan penyakit, dapat disimpulkan dengan pasti bahwa Yesaya 53 : 4 - 6 tidak dimaksudkan bahwa “bilur-bilurNya” untuk kesembuhan fisik tetapi jauh lebih dalam dan serius yaitu kesembuhan jiwa supaya ada kedamaian dan sukacita abadi.

Oleh karena itu, jika kita mengerti bahwa ayat ini hanya untuk kesembuhan fisik seperti di beberapa kelompok lain, maka pertanyaannya bagi kita adalah:

  1. Apakah kalau tidak ada kesembuhan berarti pengorbanan Yesus Kristus tidak punya kuasa?

  2. Apakah serendah dan sesepele itu kematian dan pengorbanan Kristus, yang hanya demi kesembuhan jasmani saja?

  3. Apakah kalau kita percaya Yesus Kristus maka dengan ayat-ayat ini kita dapat dibebaskan dari semua penyakit, atau untuk dijauhkan dari semua rasa sakit, atau untuk disembuhkan dari semua penyakit?

Rasul Paulus mengatakan, “Sebab, jika aku lemah, aku kuat” (2 Kor 12:10b).

Penyakit cenderung membangun kebaikan dalam kerendahan hati dan ketergantungan kepada Tuhan. Bagi banyak orang kudus, penyakit telah memberikan kesempatan untuk membuktikan iman mereka kepada Tuhan serta kesetiaan Tuhan kepada mereka. Ada suatu berkat tertentu yang datang dibalik keadaan seseorang menahan sakit.

“Sesungguhnya kita menyebut berbahagia orang-orang yang tabah. Kamu telah mendengar tentang ketabahan Ayub dan telah mengetahui tujuan Tuhan, karena Tuhan Maha Penyayang dan penuh belas kasihan.” (Yakobus 5 : 11).

Next
Next

“TETAP BERSAKSI DALAM KESESAKAN”