“TETAP BERSAKSI DALAM KESESAKAN”
Matius 27 : 57 - 60
Ditulis oleh : Pdt. Christy Rohrohmana Lekahena
Sebuah perusahaan yang sedang mengalami kerugian kecil, mengadakan rapat besar tahunan yang dihadiri semua pemegang saham. Pak Baskoro, seorang direktur senior yang sangat berpengaruh dan ditakuti mencoba mencari "kambing hitam" agar reputasinya sebagai direktur tetap aman. Ia menuduh Santi (seorang staf administrasi junior) melakukan kesalahan input data yang fatal yang menyebabkan kerugian tersebut, padahal Andi (seorang manajer yang baru bekerja dua tahun) tahu betul bahwa kesalahan itu berasal dari instruksi salah yang diberikan Pak Baskoro sendiri secara lisan. Andi berada dalam posisi sulit, jika diam akan disukai boss, atau menyatakan kebenaran yang artinya membela Santi lalu dimusuhi bos dan terancam dipecat.
Dari ilustrasi diatas mari kita lihat dan mengenal seorang yang berperan dalam peristiwa Paskah. Yusuf dari Arimatea disebutkan dalam ke empat Injil, sebagai salah satu orang yang berjasa dalam menguburkan Yesus. Mengapa nama Yusuf dari Arimatea itu menjadi begitu penting bahkan disebutkan dalam ke-empat Injil. Apakah alasannya?
Yusuf dari Arimatea adalah orang kaya raya dan murid Yesus (Matius 27:57). Ia mempunyai pengaruh besar dalam bangsa Yahudi karena menjadi anggota Sanhedrin -Majelis besar atau Tinggi bangsa Yahudi- dan juga orang yang baik lagi benar (Lukas 23:50).
Orang yang menanti nantikan Kerajaan Allah (Markus 15:43). Orang kaya dan berpengaruh tapi memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus. Itu alasan pertama.
Yusuf dari Arimatea adalah orang yang tidak menyetujui pendapat dan tindakan dari rekan seprofesinya di Sanhedrin (Lukas 23:51). Ia menghadap Pilatus (saat itu menjabat sebagai Gubernur Romawi yang menguasai daerah Yudea) dan meminta mayat Yesus. Hebatnya, Pilatus langsung memerintahkan agar mayat Yesus diserahkan kepadanya. Yusuf dari Arimatea tetap memegang prinsip hidupnya sekalipun berada di tengah-tengah lingkungan dan pekerjaan yang memiliki prinsip yang berbeda. Ini alasan kedua.
Yusuf dari Arimatea mengambil mayat Yesus, mengafaninya dengan kain lenan yang putih bersih,membaringkannya di dalam kubur baru yang di gali dalam bukit batu (ayat 59-60).
Yusuf dari Arimatea tidak meletakkan mayat Yesus dalam kubur biasa, yang bercampur dengan mayat orang lain, tapi memberikan kubur mahal dan khusus yang memang dia persiapkan untuk dirinya sendiri.
Yusuf dari Arimatea mengubah rencananya, merelakan miliknya yang terbaik untuk diberikan kepada Yesus. Ini adalah alasan yang ketiga.
Kematian Yesus justru menjadi pemicu bagi Yusuf dari Arimatea untuk tidak takut pada orang-orang Yahudi, ia berani menunjukkan identitas dirinya sebagai murid Yesus, ia berani mengambil resiko untuk kehilangan jabatan, kehilangan ketenaran, kehilangan kehormatan demi Kristus.
Ketakutan, Kekuatiran, kecemasan kalau-kalau ia akan ditangkap dan disiksa. Karena saat itu penangkapan terhadap murid-murid Yesus sedang gencar-gencarnya di lakukan, itupun tidak menggoyahkan imannya.
Saat semua murid-murid Yesus melarikan diri dan bersembunyi, Yusuf dari Arimatea justru menunjukkan imannya. Sebuah pengakuan iman yang luar biasa.
Mampukah kita memproklamirkan diri sebagai murid Yesus, tapi dengan resiko kehilangan kedudukan/jabatan/pangkat?
Mampukah kita memproklamirkan diri sebagai murid Yesus tapi dengan resiko kehilangan kesempatan mendapatkan harta, dengan resiko kehilangan kekasih/teman hidup?
Mampukah kita memproklamirkan diri sebagai murid Yesus dengan resiko tidak punya teman/dikucilkan dari lingkungan, dikucilkan dari keluarga ataupun orang tua.
Matius 10 : 28
“Janganlah takut terhadap mereka yang membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”