“YESUS HARUS TINGGAL DALAM DIRI KITA”
“Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam. Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.” (Lukas 24: 29)
Ditulis oleh : Pendeta Teddy Christian Sigarlaki-Masinambouw
Lagu Kidung Jemaat 329 yang berjudul “Tinggal Sertaku”, bait pertamanya berbunyi :
Tinggal sertaku hari t’lah senja. G’lap makin turun, Tuhan tinggallah!
Lain pertolongan tiada kutemu. Maha penolong, tinggal sertaku!
Lagu ini dikarang oleh Pendeta Henry Francis Lyte, yang terinspirasi dari permohonan dua orang murid Yesus dalam perjalanan dari Yerusalem ke Emaus. Mereka berkata, "Tinggallah bersama-sama dengan kami sebab hari telah menjelang malam dan matahari terbenam” (Lukas 24:29). Ayat ini begitu berkesan dalam diri Henry Lyte, dan menghayati bahwa bila Yesus selalu tinggal dan berjalan bersamanya maka ia akan senantiasa merasa tenang dan damai dalam situasi apapun.
Lukas 24:29 merupakan bagian perikop “Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus” (Lukas 24:13-35). Ringkasan perikop ini sebagai berikut :
Dua pengikut Yesus sedang berjalan dari Yerusalem menuju Emaus yang berjarak 11 km, berada dalam keadaan sedih, putus asa serta bingung.
Harapan mereka mengenai Yesus yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari jajahan Romawi, musnah sudah seiring dengan matinya Yesus di kayu salib.
Dan sekarang mereka mendengar berita bahwa kubur Yesus kosong dan malaikat bilang bahwa Yesus telah bangkit.
Di dalam keadaan gundah gulana seperti itu tiba-tiba muncul seorang asing di samping dua murid yang sedang dilanda kesedihan itu.
Orang itu berkata bahwa para nabi telah bernubuat tentang Mesias yang menderita, mati dan bangkit.
Orang asing ini berkata-kata dengan begitu memikat dan mempesona sehingga mereka berdua memohon Dia tinggal lebih lama lagi.
Selanjutnya, ketika mereka makan, segalanya menjadi jelas. Orang asing itu ternyata Yesus sendiri yang sedang duduk di meja bersama mereka.
Perjumpaan dan pengenalan mereka akan Yesus yang bangkit membuat rasa sedih, gundah dan letih menjadi hilang diganti harapan dan semangat yang baru.
Tanpa menunggu lama mereka kembali ke Yerusalem saat itu juga untuk bersaksi bahwa Yesus bangkit.
Sahabat Effatha yang terkasih,
Mari kita merenungkan beberapa hal sebagai berikut :
Tuhan Yesus yang bangkit itu harus selalu tinggal beserta dengan kita, di hati dan hidup kita. Yesus harus hidup di dalam kita. Dan kita harus hidup di dalam Dia.
Pentingnya selalu bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus. Yesus bukan sesuatu yang asing bagi kita, tapi Dia diam dan menyertai hidup kita.
Ada harapan, solusi dan daya juang yang baru di dalam Dia.
Berjumpa dan mengenal Tuhan Yesus yang bangkit dengan baik, akan membentuk kita hidup seperti Yesus,
kudus dan benar serta penuh dengan kasih.
Sahabat-sahabat Effatha,
Tugas kita adalah, dengan pengalaman perjumpaan dan pengenalan akan Yesus yang bangkit itu harus mendorong kita untuk terus menerus bersaksi bagi Dia di tengah dunia ini, dimulai dari keluarga kita. Amin.