“Effatha di Bukit Golgota, Membuka Jalan yang Tertutup”
Matius 27:51 (TB2) “Lihatlah tabir Bait Suci terkoyak menjadi dua dari dari atas sampai ke bawah. Terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah”.
Ditulis oleh : Pendeta Christy Rohromana Lekahena
Kita memasuki masa Pekan Suci dan ini bukanlah sekedar rangkaian upacara liturgi tahunan. Pekan Suci adalah sebuah perjalanan pembukaan. Jika kita merenungkan kata “Effatha” yang berarti “Terbukalah”, kita akan menemukan bahwa seluruh peristiwa dari Minggu Palem hingga Minggu Paskah adalah cara Tuhan membuka apa yang terkunci bagi manusia.
Membuka Pintu Pelayanan (Kamis Putih)
Kamis Putih, Kasih yang Melayani. Di ruang atas Yesus membasuh kaki para murid. Ini adalah tindakan “Effatha” terhadap ego manusia. Yesus membuka definisi baru tentang kepemimpinan, bahwa yang terbesar adalah yang melayani.
Pesan untuk kita : Pekan Suci memanggil kita untuk membuka hati yang kaku dan tangan yang tertutup agar mau merendahkan diri dan melayani sesama di sekitar kita. Pintu hati yang terbuka selalu dimulai dengan kerendahan hati untuk melayani sesama tanpa syarat.
Membuka Jalan kepada Bapa (Jumat Agung)
Jumat Agung, Kasih yang berkorban. Puncak dari pesan “Effatha” terjadi di atas kayu salib. Ketika Yesus menyerahkan Nyawa-Nya, Alkitab mencatat bahwa tabir Bait Suci terbelah dua. Selama ribuan tahun, akses kepada hadirat Tuhan yang paling kudus tertutup oleh dosa. Melalui pengorbanan Kristus tabir itu “terbuka”. Tak ada lagi sekat antara manusia dan Pencipta-Nya.
Pesan untuk kita : Kita tidak lagi perlu menanggung kutuk dosa sendirian. Pintu pengampunan telah terbuka lebar bagi siapa saja yang datang kepadaNya. Di bukit golgota, kasih itu mencapai puncakNya. Salib bukan hanya tanda penderitaan, tetapi bukti bahwa tidak ada kegelapan yang terlalu pekat yang tidak bisa dijangkau oleh pengampunan Tuhan.
Membuka belenggu maut (Sabtu Suci dan Paskah)
Sabtu Suci dan Paskah : Kasih yang menanti dan Kasih yang tak terbendung. Kematian seringkali dianggap sebagai pintu terakhir yang terkunci rapat, namun Pekan Suci membuktikan bahwa batu penutup kuburpun tidak berdaya menahan kuasa Allah. Kebangkitan adalah “Effatha” terakhir yang membelenggu maut. Harapan kita tidak lagi berhenti di liang lahat melainkan berlanjut hingga kekekalan. Paskah bukan sekedar kubur kosong melainkan tentang harapan yang kembali bernafas. Kita semua pernah mengalami masa masa “Jumat Agung” dalam hidup kita, saat-saat di mana kegagalan terasa final, kesedihan terasa menyesakkan dan pintu-pintu masa depan seolah tertutup rapat, namun Paskah membuktikan Kasih Tuhan tidak pernah menyerah pada situasi kita.
Di Pekan Suci ini kita diajak bertanya pada diri kita secara jujur, apa yang masih tertutup dalam hidup saya? Apakah hati yang tertutup oleh dendam? Apakah pikiran yang tertutup oleh keputusasaan? Apakah Kasih yang tertutup oleh keegoisan?
Tuhan Yesus melalui sengsara dan kemenanganNya berseru kepada hidup kita ”Effatha! Terbukalah”. Terbukalah untuk pemulihan, terbukalah untuk sukacita yang baru, dan terbukalah untuk berjalan dalam terang Kristus.
Selamat menghayati Pekan Suci. Tuhan Yesus memberkati.