BAGAIMANA MUNGKIN SUKACITA TERWUJUD?

Filipi 4 : 1 - 7

Ditulis oleh : Vikaris Cahyono Budi Wibowo

"Waduh anggaran dipangkas terus, bagaimana bisa acara bisa berjalan, apakah para pemimpin tidak memikirkan susahnya kita-kita mau buat acara seperti apa?"

"Untuk acara yang bergengsi seperti ini, merek kue A yang paling bagus, tidak seperti usulan ibu Ketua untuk merek kue B, kurang berkelas"

"Saya lebih senior, lebih berpengalaman belasan tahun melayani daripada anda yang baru seumur jagung"

Kalimat-kalimat di atas mungkin sering terdengar atau mungkin pernah kita ucapkan sehingga muncul pertanyaan "Bagaimana mungkin sukacita terwujud" atau lengkapnya "Bagaimana mungkin sukacita terwujud bila di antara para pelayan Tuhan tidak terdapat kesehatian?”

Hal yang kedua adalah “Bagaimana mungkin sukacita dapat menjadi pengalaman nyata warga gereja bila di antara mereka masih terbiasa hidup dalam kekuatiran?”

Dua pertanyaan ini mari kita jawab dengan ayat-ayat ini.

  1. Seperti Tuhan Yesus menjelang kematian-Nya, Ia berdoa untuk kesehatian para pengikut-Nya, kini Paulus meskipun dalam keadaan di penjara ia tetap mempedulikan keadaan gereja di Filipi. Ketidakserasian hubungan, tidak sehati, tidak sepikir terjadi di antara para pelayan seperti Euodia dan Sintikhe. Hal ini tidak baik apabila dibiarkan karena akan merusak sukacita dalam gereja. Paulus meminta keduanya bersikap sebagai pewaris hidup kekal (ayat 3), bukankah mereka adalah warga kerajaan surga. Di dalam Kristus semua orang percaya adalah sesama pewaris Kerajaan Allah. Karena itu juga, ia meminta semua warga jemaat (Sunsugos berarti teman sesama pemikul kuk – ayat 3) untuk turut berusaha mendamaikan kedua pelayan Tuhan itu. Hanya gereja yang para pelayan dan warga jemaatnya sehati, sepikir, satu kasih terdapat sukacita di dalamnya. Pulus mengatakan hal itu sebagai sukacita dan mahkota (ayat 1).

  2. Berbagai kesulitan seperti yang dialami gereja di Filipi membuat mereka kurang bersukacita. Kekuatiran baik tentang kehidupan pribadi dan gereja, bisa membuat sukacita menjadi hilang. Kata Yunani yang diterjemahkan “kuatir” di sini berarti ditarik ke arah yang berlainan. Harapan-harapan kita menarik kita kepada satu arah, ketakutan-ketakutan kita menarik kita kepada arah yang berlawanan, dan kita menjadi terpecah belah. Akar kata Bahasa Inggris kuno dari kata kuatir adalah mencekik. Kuatir berarti perasan mencekik yang akhirnya menjadi sakit jasmani dan membuat sukacita hilang.

Apa yang mau kita pelajari dari dua hal di atas:

  1. Paulus meminta agar orang Kristen di Filipi secara aktif menyatakan kebaikan hati mereka (ayat 5). Status 'dalam Tuhan' (ayat 4) yang menjadi sumber bagi orang Kristen untuk memiliki sukacita dan damai sejahtera tidak boleh dihayati secara pasif. Artinya menjadi orang Kristen jangan sukanya berkelahi, memperdebatkan hal-hal yang tidak prinsip, senang memperuncing perbedaan, menyuluh amarah, egois, menang sendiri, merasa pinter dan sombong. Alih-alih sukacita yang didapat justru pertengkaran, permusuhan dan kerusakan persekutuan dalam gereja jika demikian adanya. Kalau mau ada keharmonisan dan sukacita, maka buang perselisihan dan merasa paling hebat, paling pinter dibandingkan yang lain (Filipi 2:1-11). Ingat bahwa semua kita debu dan abu.

  2. Obat untuk kekuatiran adalah pikiran yang tenang. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus. Sehingga sukacita tidak bergantung kepada situasi atau peristiwa-peristiwa tertentu. Paulus menganjurkan untuk melakukan sesuatu, tetapi bukan dengan cara askese (mengasingkan diri), mengkonsumsi obat penenang, rakus harta, budak uang, dan lain sebagainya.

Damai sejahtera dan sukacita tidak dapat diperoleh dengan cara-cara kedagingan! Bila kita memiliki pikiran tenang, maka damai sejahtera Allah akan memelihara kita dan Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kita. Dengan perlindungan semacam ini mengapa harus kuatir? Mengapa kekuatiran mengambil sukacita kita?

RENUNGKANLAH

Sukacita dan damai sejahtera tidak tergantung pada kondisi luar, tetapi pada keakraban hubungan antar sesama orang Kristen dan dengan Tuhan.

cover-eff-bersaksi-270626
Next
Next

Bersyukur Untuk Bersukacita