Bersyukur Untuk Bersukacita

(1 Tesalonika 5 : 16 - 18)

Ditulis oleh: Pnt. J. Cemby Hutapea

“Setiap kali aku mendapat penghasilan dari pekerjaanku, selalu saja datang masalah baru. Bulan lalu penghasilanku terkuras untuk mengganti laptop teman yang aku pinjam tapi hilang dicuri orang. Kemarin saat aku mendapat komisi dari penjualan, giliran motorku yang rusak berat. Lagi-lagi uangku habis untuk memperbaikinya. Bagaimana aku harus bersyukur dalam keadaan seperti ini, Bu?“, keluh Acel, seorang pemuda yang baru memulai usaha jual-beli rumah, kepada ibunya.

Ibu bertanya “Acel, apa yang terjadi jika kamu tidak mempunyai uang saat temanmu meminta agar laptopnya diganti bulan lalu? Atau saat motormu rusak kemarin?“.

Acel terlihat bingung. Tak lama, ia malah tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya. “Nah.. Sekarang kamu paham kan. Bukankah itu berarti bahwa sebenarnya Tuhan telah mempersiapkan kamu untuk menghadapi masalah-masalah yang akan datang? Karena itu, tetaplah bersyukur, Nak“, imbuh Ibu menasehati Acel.

Ada banyak alasan yang dapat membuat orang kehilangan rasa sukacita serta merasa kecewa dan sedih. Keinginan yang tidak tercapai atau masalah yang datang bertubi-tubi atau ketika penyakit yang diderita tak kunjung sembuh, adalah beberapa alasan diantaranya. Semua ini dapat menghilangkan sukacita akibat keengganan untuk tetap bersyukur di masa-masa sulit. Padahal firman Tuhan menyatakan “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Ucapkanlah syukur dalam segala hal. Sebab, itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu“ (1 Tesalonika 5:16-18/TB-2).

Tentu kita pernah membaca atau mendengar firman ini. Mudahkah untuk dilakukan? Memang telihat mudah bagi orang untuk mengucap syukur dan bersukacita ketika kehidupannya berjalan baik-baik saja. Keberhasilan dalam studi, kesuksesan dalam karir atau dunia usaha, misalnya, tentu menimbulkan rasa syukur dan sukacita. Namun bersukacita senantiasa, mengandung makna bersukacita dalam segala keadaan dan waktu, termasuk dalam masa-masa sulit.

Bagaimana jika masa sulit itu benar-benar datang? Semuanya bisa menjadi terasa sulit. Sulit untuk bersyukur. Sulit untuk bersukacita.

Tidak mudah bagi orang untuk dapat bersukacita dalam masa-masa sulit. Rasa takut dan cemas yang kerap datang menghampiri selama masalah belum teratasi, dapat menyebabkan orang terkadang lupa atau bahkan enggan untuk bersyukur. Namun harus selalu diingat bahwa antara rasa bersukacita dan sikap hati yang bersyukur mempunyai hubungan sebab-akibat atau kausalitas (conditio sine qua non) yang erat dan tidak terpisahkan. Hubungan yang secara harfiah berarti "syarat yang tanpanya tidak bisa".

Hal ini juga mengandung makna bahwa dalam masa sulit, sikap hati yang bersyukur adalah syarat mutlak yang harus ada dan dipenuhi agar kita bisa senantiasa bersukacita. Ketika masalah datang menghampiri dan menyebabkan hidup kita menjadi tidak baik-baik saja, maka tanpa sikap hati yang bersyukur mustahil kita bisa bersukacita.

Ingatlah bahwa Allah kita yang hidup adalah jauh lebih besar daripada segala bentuk masalah yang datang menghampiri kita. Ia berjanji tidak akan membiarkan kita sendirian menghadapi masa-masa sulit dan berjanji tidak akan meninggalkan kita (band. Ibrani 13:5). Penyertaan Tuhan di sepanjang kehidupan kita inilah yang seharusnya menjadi dasar ucapan syukur yang sejati sehingga kita dapat senantiasa bersukacita. Karena itu, seperti nasehat Ibu kepada Acel anaknya, “... tetaplah bersyukur, Nak“.

frame-bible-verse
Next
Next

PELAYARAN 76 TAHUN BAHTERA JEMAAT EFFATHA JAKARTA