PELAYARAN 76 TAHUN BAHTERA JEMAAT EFFATHA JAKARTA
Kolose 3 :10 (tb.2) :
“dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya”
Ditulis oleh Pdt. Teddy Christian Sigarlaki Masinambouw
Mengawali renungan di Effata Bersaksi dalam rangka HUT ke 76 tahun GPIB “Effatha” saya mengajak kita semua mengenal dan menghayati sebuah slogan Bahasa Latin yang cukup terkenal dalam tradisi Gereja Reformasi yaitu: “Ecclesia reformata, semper reformanda est secundum Verbum Dei”. Artinya “Gereja yang telah diperbaharui harus selalu diperbaharui sesuai dengan firman Tuhan”. Ungkapan ini menegaskan bahwa Gereja harus terus menerus diperbaharui berdasarkan Firman Tuhan agar tetap relevan dan berdampak bagi dunia sesuai kehendak Allah. Pembaharuan menjadi tema sentral yang harus terus bergema dalam kehidupan Gereja Tuhan sebagai pribadi orang percaya dan persekutuan Jemaat.
Kolose 3:10 yang menjadi nats perenungan saat ini hendaknya menjadi pondasi kehidupan bergereja yang kuat dan berkualitas. Kristus yang menjadikan kita manusia baru harus menjadi pusat kehidupan ini agar kita tidak kembali menjadi manusia lama yang hanya mengikuti keinginan dosa. Rasul Paulus menasihati jemaat di Kolose untuk mengenakan manusia baru dan menanggalkan manusia lama, karena menjadi manusia baru adalah proses yang terus menerus berlangsung. Pembaharuan hidup yang terus menerus ini akan menuntun umat percaya untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar penciptanya. Melalui pembaharuan yang terus menerus berlangsung, pikiran, perkataan dan perbuatan kita akan selaras dengan kehendak Tuhan yaitu hidup dalam kekudusan.
Melalui Tema: “Diperbaharui untuk melayani” dan Sub Tema : “Menjadi Gereja yang Relevan, Bertumbuh dan Dipakai Tuhan di setiap Generasi” maka sebagai aplikasi renungan Efatha edisi Hari Ulang Tahun ke 76, tanggal 10 Juni 2026 untuk seluruh warga jemaat GPIB Effatha DKI Jakarta, saya mengajak kita semua menghayati sebuah lagu Gereja yang berjudul :
GEREJA BAGAI BAHTERA
Gereja bagai bahtera di laut yang seram
mengarahkan haluannya ke pantai seberang
Mengamuklah samudera dan badai menderu;
gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh.
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih:
Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?
Reff:
Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!
Gereja bagai bahtera di laut yang seram,
mengarahkan haluannya ke pantai seberang.
Hai ‘kau yang takut dan resah, ‘kau tak sendirian;
teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan!
Bersama-sama majulah, bertahan berteguh
tujuan akhir adalah labuhan Tuhanmu!
Syair dalam lagu ini sungguh-sungguh merupakan realita keberadaan Gereja dalam menjalani panggilan dan pengutusanNya di dunia ini dengan segala pergumulan, tantangan dan ancaman dari dalam maupun dari luar Gereja. Gereja digambarkan seperti sebuah bahtera / kapal yang sedang berlayar di laut yang seram dan menakutkan. Dalam segala situasi yang dihadapi Gereja harus selalu berdoa "Tuhan, Tolonglah, Tuhan tolonglah, tanpa Dikau, semua binasa kelak, ya Tuhan tolonglah!”.
Kita yang sudah memasuki usia 76 tahun dalam pelayanan bahtera GPIB Jemaat Effatha harus selalu mengalami pembaharuan dalam segala hal supaya kita dapat melanjutkan pelayaran bahtera ini dengan tetap mengandalkan iman kepada Yesus Kristus.
Mari kita evaluasi diri kita masing-masing, apakah kita selalu berada dalam pembaharuan Kristus atau tidak? Karena hanya dengan dibaharui setiap waktu kita akan mampu bersekutu, melayani dan bersaksi menurut cara dan kehendak Tuhan. Apa yang kita kerjakan dengan cara dan pola Tuhan Yesus pasti akan membawa dampak yang positif bagi kehidupan iman warga jemaat yang barakar, bertumbuh dan berbuah.