Kasih yang Tak Pernah "Habis Baterai"

1 Korintus 13 : 8

Ditulis Oleh : Pdt. Christy Rohrohmana Lekahena

low-battery

Pernah nggak sih kamu merasa kasih itu berat banget? Rasanya seperti harus jadi orang yang sempurna, sabar setiap saat, dan selalu baik hati ke semua orang. Kadang saya berpikir, kalau kasih itu seperti baterai HP, pasti saya sering banget dapat peringatan "Baterai lemah! Segera isi daya!" Apalagi kalau berurusan dengan orang yang… ah, sudahlah, kamu tahu kan tipe orang seperti apa yang saya maksud?

Kadang hati kita rasanya sudah "lowbat" banget buat kasih. Kalau disuruh sabar, rasanya mau meledak. Disuruh mengampuni, rasanya malah ingin menyimpan daftar hitam di dalam hati lengkap dengan tanggal dan kejadiannya. Seolah-olah kasih itu adalah beban berat yang harus kita pikul sendirian sampai punggung pegal.

Tapi coba kita lihat lagi apa yang dikatakan Alkitab. Paulus menulis bahwa kasih itu sabar, kasih itu murah hati, tidak iri hati, tidak memegahkan diri, dan tidak sombong. Eh, tunggu dulu, ada satu hal penting: Kasih itu tidak pernah berakhir.

Tahu nggak, sering kali kita salah kaprah. Kita berpikir kasih itu adalah kemampuan kita untuk menjadi baik. Padahal, kasih itu adalah sifat Allah. Kita itu cuma "kabel" saja, cuma sebagai saluran, bukan sumber listriknya. Nah, masalah yang sering terjadi ketika kita lupa mencolokkan kabel ke sumbernya, lalu marah-marah kenapa tidak ada cahaya yang menyala!

Kalau kita berusaha mengasihi hanya pakai tenaga sendiri, hasilnya pasti lucu tapi menyedihkan. Kita akan sabar sebentar saja, lalu marah, lalu merasa benar sendiri, lalu bilang, "Ah, dia salah duluan kok!"

Itu namanya bukan kasih, itu namanya "kasih dengan syarat dan ketentuan yang berlaku".

Jika kita sadar bahwa kasih itu adalah anugerah dari Tuhan, semua jadi lebih ringan, kita tidak perlu merasa harus kuat sendirian. Pada saat kita merasa sudah tidak sanggup lagi mengasihi orang yang susah dimengerti, saat itu paling tepat bilang sama Tuhan: “Tuhan, kamu kan sumber kasih, tolong salurkan kasih-Mu lewat saya, karena saya sendiri sudah kehabisan stok, mau habis tutup toko nih!”

Kasih Kristen bukan berarti kita harus menjadi malaikat yang tidak pernah kesal atau capek. Kita manusia biasa, wajar kalau capek. Tapi kabar baiknya adalah: kasih Allah tidak bergantung pada baterai kita, tapi pada kekuatan-Nya yang tidak pernah habis.

Jadi hari ini, jangan terlalu keras sama diri sendiri kalau rasanya hati kamu lagi lelah untuk mengasihi. Ingat, tugas kita cuma satu: tetap terhubung sama Sumbernya. Kalau terhubung, arus kasih akan terus mengalir, meskipun mungkin kita masih sering bergumam dalam hati, "Ya Tuhan, ini orang lagi deh..."


Kasih itu bukan soal seberapa hebat kita, tapi seberapa dekat kita dengan Dia yang adalah Kasih itu sendiri.

Previous
Previous

PELAYARAN 76 TAHUN BAHTERA JEMAAT EFFATHA JAKARTA

Next
Next

“Bertumbuh dan Berbuah Bersama dalam Kasih”