“Bertumbuh dan Berbuah Bersama dalam Kasih”

Ditulis oleh : Penatua Coki Panjaitan

Di sebuah taman, tidak semua pohon tumbuh dengan cara yang sama. Ada pohon yang cepat berbunga dan berbuah lebat, ada yang masih kecil dan rapuh, bahkan ada yang tampak kering dan belum menunjukkan tanda kehidupan. Namun, sang tukang kebun tetap menyiram, merawat, dan menjaga semuanya dengan penuh kesabaran. Ia memahami bahwa setiap pohon memiliki proses pertumbuhan yang berbeda. Gambaran ini mengingatkan kita pada kehidupan bergereja. Di dalam satu gereja, Tuhan mempertemukan Pendeta, Majelis, Pelayan, Jemaat, dan Pegawai kantor Gereja dengan karakter, latar belakang, serta tingkat pertumbuhan iman yang tidak sama. Ada yang mulai memperlihatkan perubahan hidup melalui sikap yang penuh kasih, sabar, mau mendengar, dan membawa damai bagi sesama. Ada pula yang masih mudah tersinggung, marah, kecewa, egois, dan membawa luka dan pergumulan. Namun Tuhan Yesus tetap memelihara semuanya di dalam kasih-Nya.

photo-renungan-30Mei2026

Firman Tuhan dalam Yohanes 15:5 berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.”

Tuhan tidak pernah memanggil umat-Nya untuk hidup sendiri-sendiri. Ia membentuk sebuah komunitas agar setiap orang belajar untuk saling menerima, menolong, dan berjalan bersama dalam iman. Rasul Paulus juga mengingatkan dalam Galatia 5:22-23 bahwa buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Buah-buah inilah yang Tuhan Yesus kehendaki agar nyata dalam kehidupan setiap orang percaya.

Bagi mereka yang sudah bertumbuh, Tuhan memanggil mereka untuk tetap rendah hati dan menjadi teladan. Sedangkan bagi mereka yang belum berbuah, Tuhan tetap memberikan kesempatan untuk berubah dan mengalami pemulihan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita lebih mudah menilai kekurangan orang lain daripada memahami proses yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup mereka. Kita bisa kecewa terhadap sesama Pelayan, Majelis, atau Jemaat karena sikap dan perkataan mereka. Namun, melalui perbedaan karakter itu Tuhan sedang mengajar kita tentang kasih, kesabaran, dan pengampunan. Gereja bukanlah tempat bagi orang-orang sempurna, melainkan tempat bagi orang-orang yang sedang dibentuk oleh Tuhan. Karena itu, kita dipanggil bukan untuk membandingkan atau menghakimi, melainkan untuk menjadi pribadi yang membawa damai dan penguatan bagi sesama.

Tanpa kita sadari, kita ingin gereja dipenuhi orang-orang yang sesuai dengan gambaran, harapan dan keinginan kita. Padahal, Tuhan justru memakai perbedaan untuk membentuk hati kita. Orang yang sulit kita pahami dipakai Tuhan untuk melatih kesabaran kita. Orang yang belum berubah sedang menunggu kasih dan teladan nyata dari kita. Karena itu, sebelum menuntut orang lain bertumbuh, marilah bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup kita sudah menghadirkan kasih Kristus di tengah komunitas? Apakah kehadiran kita menjadi kekuatan bagi sesama, atau justru melukai?

Tuhan tidak memanggil kita menjadi hakim bagi sesama, tetapi menjadi saluran kasih-Nya agar Gereja bertumbuh bersama dalam kasih dan kesatuan.

Ketika kita menyerahkan kendali atas hidup kita kepada Yesus, kita membiarkan kasih, sukacita, dan harapan-Nya mengubah kita. Seiring hal ini terjadi, hidup kita menjadi sebuah tindakan penyembahan yang menyatakan harapan-Nya di dalam diri kita.

Previous
Previous

Kasih yang Tak Pernah "Habis Baterai"

Next
Next

"MANUSIA BARU: MERAWAT KASIH DAN KARAKTER DI ERA DIGITAL"