"MANUSIA BARU: MERAWAT KASIH DAN KARAKTER DI ERA DIGITAL"
Ditulis oleh : Pdt. Junita Jane Joana Loen - Ulaan
Sahabat Effatha....
Manusia itu disebut makhluk sosial. Artinya, manusia itu tak dapat hidup dengan dirinya sendiri saja. Ia membutuhkan orang-orang lain didalam hidupnya untuk hidup . Pola interaksi manusia dari satu titik ke titik berikutnya bahkan sampai saat ini mengalami banyak sekali perubahan. Dahulu, jarak diukur dengan langkah kaki dan rasa rindu ditenangkan oleh kehadiran fisik. Kini, kita berdiri di ambang peradaban baru di mana dunia tidak lagi hanya seluas pandangan mata, melainkan sedalam genggaman layar di telapak tangan. Kita adalah generasi yang hidup di dua dunia secara bersamaan: dunia fisik yang penuh dengan sentuhan hangat, dan dunia digital yang menawarkan koneksi tanpa batas. Namun, di tengah kemudahan serat optik dan kecepatan informasi, sebuah pertanyaan besar membayangi kita: Masihkah hati kita saling bertaut saat perhatian kita terbagi?
Kitab Ulangan berisi pidato-pidato yang disampaikan Musa pada waktu orang Israel berkemah di dataran Moab. Musa mengingatkan mereka bahaya-bahaya penyembahan berhala dan kemurtadan, Musa juga menyampaikan hukuman bagi umat yang mengabaikan perjanjian di Sinai tetapi juga Allah menjanjikan berkat jika Israel setia kepada tugas-tugas ilahinya.
Ulangan 6 : 6 -7 merupakan bagian dari Shema (pengakuan iman utama dalam tradisi Yahudi). Menjadi manusia baru bukan sekadar mengubah perilaku luar, melainkan perubahan pusat batin (hati). Proses menjadi manusia baru melibatkan pembaruan budi yang konsisten. Ini bukan kejadian sekali jadi, melainkan pertumbuhan. Mengajarkan firman "berulang-ulang" mencerminkan disiplin rohani yang diperlukan agar manusia baru tersebut terus bertumbuh dan tidak kembali ke pola pikir "manusia lama”.
Yang harus kita perhatikan pada bagian ini adalah bahwa sebelum nilai-nilai diajarkan kepada orang lain (anak atau anggota lainnya), nilai tersebut sudah harus terlebih dahulu menetap di dalam hati sang pengajar.
Kata asli dari "mengajarkan berulang-ulang" dalam bahasa Ibrani memiliki akar kata yang berarti menajamkan yakni Proses Pengasahan. Seperti mengasah pisau, pembentukan karakter anak memerlukan gesekan yang konsisten dan terus-menerus. Tidak bisa hanya sekali bicara lalu selesai dan kemudian dibiarkan bertumbuh sendiri.
Selanjutnya pada ayat 7b "Apabila Engkau Duduk... Sedang Berjalan... Berbaring... Bangun. Ini adalah bagian yang paling menarik karena mengajarkan bahwa pendidikan karakter tidak terbatas pada ruang khusus tapi berlangsung secara aktif dalam setiap gerak kita sepanjang satu hari
Duduk di rumah, Dalam Persekutuan : Saat santai dan intim dalam keluarga.
Sedang berjalan: Saat beraktivitas di luar, bekerja, atau dalam perjalanan.
Berbaring & Bangun: Dari awal hingga penghujung hari.
Sahabat Effatha,
Apa yang dapat kita pelajari dari kitab Ulangan 6 :6 - 7 dalam konteks kita sebagai Persekutuan lintas generasi
Menjadi manusia baru di era digital dimulai dari internalisasi nilai. Sebelum kita membagikan (share) nilai kebaikan di media sosial, nilai itu harus sudah hidup dan menetap di hati kita terlebih dahulu. Kasih yang sejati tidak butuh filter atau editing. Tetapi kasih yang sejati itu hadir secara nyata bukan berdasarkan followers
Menjadi "Manusia Baru" di era ini bukan berarti membuang yang lama demi yang canggih. Sebaliknya, ini adalah tentang sebuah seni merawat. Seperti seorang petani yang menjaga benih di tengah cuaca yang berubah-ubah, kita dipanggil untuk merawat kasih agar tidak menjadi dingin dalam percakapan teks, dan menjaga karakter agar tidak luntur di balik anonimitas layar.
"Jangan hanya membicarakan kebenaran di depan sesama, hiduplah dalam kebenaran di samping mereka juga."
Bagi generasi masa kini, dunia digital adalah taman bermain tanpa pagar yang membutuhkan kompas moral yang kuat. Bagi para orang tua, ia adalah jembatan yang menantang kesabaran dalam mendampingi. Dan bagi para lansia, ia adalah jendela baru untuk tetap mewariskan hikmat masa lalu kepada masa depan.
Dari Ulangan 6:6-7 kita diingatkan bahwa, meski teknologi terus berganti, kebutuhan dasar manusia akan kasih, integritas, dan penghargaan tetaplah abadi. Kita tidak sedang membangun dinding untuk memisahkan diri dari kemajuan, melainkan sedang membangun jembatan karakter yang kokoh. Karena pada akhirnya, bukan kecepatan koneksi internet yang akan menyelamatkan keharmonisan kita, melainkan ketulusan hati yang mampu menembus batas-batas ruang dan waktu.
Mari kita melangkah melanjutkan hidup ditengah perubahan yang begitu cepat, bukan sebagai budak dari algoritma, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang utuh, yang mampu membawa cahaya kasih dari meja makan bersama Keluarga, dalam ruang pelayanan sebagai persekutuan dan relasi kepada sesama disekitar kita untuk saling menguatkan bahkan di jagat maya sekalipun, supaya nama Tuhan semakin dimuliakan. Itulah karakter manusia baru sejati yang bertumbuh dalam iman kepada Tuhan. Amin
Sumber:
Eka Darmaputera, “Hidup yang bermakna-Khotbah-khotbah tentang Kehidupan Kristen” (PT BPK GUNUNG MULIA Cetakan 5 , 2009), Hal. 19.
Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Tafsiran Alkitab Masa kini 1 Cetakan ke 9 2022, Hal 292-292