EFFATHA! TERBUKALAH BAGI PERUBAHAN

Ditulis oleh : Pdt. Christy J. Rohrohmana - Lekahena

Dalam Kekristenan transformasi bukan sekedar perubahan perilaku lahiriah atau upaya menjadi “orang baik" saja, melainkan perubahan radikal pada hakikat dan batiniah seseorang. Kata Yunani yang digunakan dalam Alkitab untuk transformasi adalah meta-morphe (yang menjadi asal kata metamorfosis).

Gambar di bawah ini mengambarkan perubahan rupa atau bentuk dari dalam ke luar, seperti ulat yang menjadi kupu kupu.

metamorfosis kupu-kupu

Kisah Andrew Chan, merupakan contoh transformasi hidup dan pertobatan.

Andrew Chan adalah bagian dari Bali Nine, dan hidupnya bisa diteladani karena perubahan radikal yang terjadi dalam penjara. Hidup masa lalunya penuh dengan kekelaman, terlibat dalam jaringan penyelundupan narkoba internasional. Ia mengalami transformasi radikal dalam penjara di Krobokan, saat menanti hukuman mati yang harus dijalaninya. Ia mengambil keputusan yang luar biasa, bertobat dan melayani sesama. Studi teologi ditempuhnya dari balik jeruji besi sampai diteguhkan menjadi Pendeta. Ia aktif melayani sebagai pendeta yang memimpin ibadah dan memberikan konseling bagi narapidana lain.Transformasi yang terjadi membuat dia dikenal sebagai pembawa harapan dan perubahan hidup bagi banyak orang di dalam penjara, sebelum dieksekusi tahun 2015.

Ada 3 Arti transformasi dalam Kekristenan:

  1. Pembaharuan budi, bukan tentang mengikuti peraturan, melainkan perubahan pola pikir yang kemudian mengubah cara hidup (Roma 12:2).

  2. Melepaskan identitas lama yang berdosa dan mengenakan identitas baru di dalam Kristus, itulah kelahiran baru, dari “hamba dosa” menjadi “anak Allah” (2 Korintus 5:17).

  3. Tujuan akhir dari transformasi bukanlah kesuksesan duniawi melainkan menjadi serupa dengan gambar Yesus. Dan ini adalah proses seumur hidup, dimana karakter kita (kasih, kesabaran, kekudusan) semakin menyerupai Karakter-Nya (2 Korintus 3:18).

Contoh transformasi yang paling radikal dalam sejarah gereja mula-mula, terjadi pada seorang tokoh Alkitab Saulus yang menjadi Paulus. Sebelumnya, Saulus adalah seorang yang sangat religius namun penuh dengan kebencian, ia mengejar dan menganiaya orang Kristen karena dianggap sesat. Ia mengalami transformasi setelah bertemu Yesus dalam perjalanan ke Damsyik. Hatinya diubah total. Setelah itu, ia tidak lagi menggunakan energinya untuk menghancurkan, melainkan untuk membangun jemaat. Ia menjadi pemberita Injil yang paling gigih, bahkan rela menderita dan mati bagi Kristus yang dulu ia benci.

Maka transformasi yang harus terjadi dalam kehidupan kita :

  • Transformasi karakter, dari pemarah menjadi pembawa damai, seorang yang sangat temperamental dan pendendam, belajar melepas haknya untuk membalas dendam.

  • Transformasi orientasi hidup, dari self-centered menjadi Christ-centered, seorang yang tadinya mengejar karier, kekayaan dan pengakuan akan kehebatannya, tujuannya berubah, bekerja untuk memuliakan nama Tuhan, menjadi berkat bagi rekan kerja dan menggunakan semua yang dimilikinya untuk menolong sesama sehingga kariernya menjadi bentuk ibadah bukan lagi berhala.

  • Transformasi cara pandang, dari ketakutan menjadi kepercayaan, dulunya selalu merasa cemas terhadap masa depan kemudian mengalami transformasi sehingga ketika badai hidup datang, ia tetap bisa merasakan ketenangan bukan karena masalahnya hilang tetapi karena pandangannya tidak lagi tertuju pada besarnya masalah, melainkan pada penyertaan kuasa Tuhan.

  • Transformasi dalam relasi, dari pahit menjadi pulih, hubungan keluarga yang retak selama bertahun-tahun karena luka masa lalu, hatinya dilunakkan oleh Tuhan sehingga mampu memaafkan dan memberi pengampunan tanpa menunggu orang lain untuk berubah.

Kini kita ditantang untuk bertanya kepada diri kita dan menjawabnya secara jujur di hadapan Tuhan, bagi karier kita, apakah kita sedang hanya bekerja atau melayani untuk kemuliaan nama Tuhan atau tanpa sadar sedang membangun ”menara Babel” untuk kehebatan diri sendiri?

Siapakah “Saulus” dalam hidupmu, siapakah orang yang paling sulit anda maafkan dan bersediakah anda mengizinkan Tuhan melunakkan hati Anda untuk melepaskan pengampunan sebelum mereka meminta maaf?

Ingatlah, transformasi Kristen adalah proses seumur hidup. Seperti ulat di dalam kepompong, ada proses "menghancurkan diri yang lama" sebelum sayap baru bisa muncul. Proses ini sering kali menyakitkan dan tidak instan, namun hasilnya adalah keindahan dan kebebasan yang sejati.

Previous
Previous

"MANUSIA BARU: MERAWAT KASIH DAN KARAKTER DI ERA DIGITAL"

Next
Next

“TUHAN YESUS MATI DAN BANGKIT, UNTUK MASALAH DOSA”