“HIDUP DALAM KELEMAHLEMBUTAN”

Ditulis Oleh : Pendeta Junita Jane Joana Loen-Ulaan

EFESUS 4 : 1 - 3

Dalam Buku Team of Rivals: The Political Genius of Abraham Lincoln karya Doris Kearns Goodwin. Menjelaskan Abraham Lincoln dikenal memiliki kemampuan untuk menghadapi orang-orang yang menentangnya dengan sikap yang relatif tenang. Salah satu contoh yang sering diceritakan adalah ketika ia menghadapi Edwin M. Stanton, seorang tokoh yang pernah mengkritik dan merendahkannya secara pribadi. Menariknya, ketika Lincoln menjadi Presiden Amerika Serikat, ia justru memilih Stanton untuk menduduki posisi Secretary of War. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Lincoln tidak membiarkan luka pribadi menentukan cara ia memperlakukan orang lain. Ia melihat kepentingan yang lebih besar daripada harga dirinya sendiri.

Kelemahlembutan bukan berarti kita tidak memiliki alasan untuk marah. Kelemahlembutan berarti kita memiliki kekuatan untuk membalas, tetapi tetap memilih untuk mengendalikan diri demi kasih dan tujuan yang lebih besar.

Kelemahlembutan paling mudah dibicarakan ketika kita tidak sedang disakiti. Tetapi kelemahlembutan yang sesungguhnya terlihat ketika seseorang sedang marah dan ingin membalas, tetapi memilih untuk tetap mengasihi. Abraham Lincoln pernah berhadapan dengan orang yang merendahkan dan mengkritiknya. Namun ketika ia memiliki kekuasaan, ia tidak menggunakan kekuasaan itu untuk membalas dendam. Inilah gambaran sederhana bahwa kelemahlembutan bukan berarti lemah.

Surat Efesus 4:1–3, berisi nasihat Rasul Paulus kepada orang percaya yang ada di Efesus agar mereka hidup sesuai dengan panggilan yang telah mereka terima dari Kristus.

Setelah menjelaskan tentang karya dan kasih karunia Allah, Paulus beralih kepada bagaimana kehidupan orang percaya seharusnya terlihat.

Ayat 1, Hidup sesuai panggilan. Paulus menyebut dirinya sebagai “orang tahanan karena Tuhan”, lalu menasihati jemaat supaya hidup sesuai dengan panggilan mereka.

“Panggilan” di sini bukan hanya berbicara tentang pelayanan atau pekerjaan tertentu, tetapi tentang identitas baru sebagai orang yang telah dipanggil dan diselamatkan oleh Kristus. Iman bukan hanya sesuatu yang kita katakan, tetapi harus terlihat dalam sikap, perkataan, keputusan, dan hubungan kita dengan orang lain.

Ayat 2, Kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.

Rendah hati, Yunani; tapeinophrosýnē artinya, kerendahan hati, sikap tidak meninggikan diri, tidak menganggap diri lebih tinggi atau lebih penting daripada orang lain. Secara sederhana tapeinophrosýnē menunjuk pada “kerendahan dalam cara berpikir atau sikap hati.” Dalam konteks ini, Paulus tidak sekadar meminta kita untuk bersikap rendah secara lahiriah, tetapi memiliki hati yang tidak berpusat pada diri sendiri, sehingga kita dapat menghargai, melayani, dan bersabar terhadap orang lain. Lemah lembut, Yunani; prautēs diterjemahkan sebagai kelemahlembutan/gentleness. Hal ini bukan berarti lemah atau tidak berdaya, tetapi sikap yang tidak kasar atau mementingkan diri, mampu mengendalikan kekuatan dan emosi sehingga tidak menganggap diri lebih tinggi. Sabar Yunani; makrothymía kesabaran, panjang sabar, ketekunan dalam menghadapi orang atau keadaan yang sulit. Makrothymía menggambarkan sikap “lambat untuk marah” atau “menahan amarah.” Kesabaran dalam konteks ini berarti tidak cepat tersinggung atau marah ketika menghadapi kelemahan, kesalahan, dan kekurangan orang lain.

Ayat 3, Memelihara kesatuan, Paulus mengingatkan jemaat “berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Paulus tidak berkata, “ciptakan kesatuan.” Kesatuan Roh sudah diberikan oleh Allah kepada umat-Nya. Tugas orang percaya adalah memeliharanya. Caranya adalah dengan menjaga damai sejahtera, belajar mengasihi dan menerima satu sama lain meskipun ada perbedaan.

Bagaimana menerapkan firman Tuhan ini dalam konteks gereja masa kini,

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Ketika terjadi konflik, kita dapat memilih untuk tidak mempertahankan ego tetapi belajar rendah hati. Saat dikecewakan, kita belajar sabar dan mengampuni. Kita semua telah menerima panggilan yang mulia di dalam Kristus. Ketika kita memilih untuk rendah hati, lemah lembut, sabar, dan saling mengasihi, hal tersebut mau menunjukkan bahwa kita sedang menghadirkan Kristus melalui kehidupan kita. Kiranya di mana pun Tuhan menempatkan kita, kehadiran kita biarlah membawa damai, bukan perpecahan. Amin.

Next
Next

Lemah Lembut, Kuat dalam Kendali Tuhan